Minggu, 31 Maret 2013

solutio placenta


BAB  I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Nama lain dari Solutio Plasenta adalah Abrupsio Plasenta, Abisio Plsenta, Accidental Hoemorarrhge, Premature Saparation Of The Normally Implanted Placenta. Solutio Plasenta yang secara klinis jelas terdapat pada 0,5 – 1% dari semua kehamilan. Solutio Plasenta sering disertai oleh keadaan yang menyebabkan Insufiensi Uteroplasenter Kronik seperti hipertensi, merokok trauma atau menggunakan kokai, juga sering disertai oleh plasenta Preria Marginalis. Solutio Plasenta yang cukup berat sehingga bisa mematikan janin terjadi I dalam 500 kehamilan. Diagnosis ditegakkan apabila pada pemeriksanan Ultrasonografi tidak terdapat Plasenta Previa (WilliamF. Rayburn, 2001).
Pada sebagian besar laporan, angka kematian perinatal akibat Solutio Plasenta adalah sekitar 25%. Pada sebuah studi besar di Swedia oleh Karegard dan Gennser (1986) yang disebut diatas, angkanya adalah 20% Krohn dkk, (1987). Melaporkan bahwa angka kematian perinatal adalah 20% dari 844 kehamilan dengan penyulit Solutio Plasenta. Di Washington State Ananth dkk (1999) meneliti bahwa 530 wanita dengan Solutio Plasenta di Mt Sinai Hospital di New York dan melaporkan bahwa 40% melahirkan kurang bulan.
Ketika angka kelahiran mati akibat kausa lain telah berkurang secara bermakna, angka lahir mati akibat Solutio Plasenta menjadi lebih menonjol, sebagai contoh dari semua bayi lahir mati Trimester ke-3 leih dari 40.000 pelahiran di Parkland Hospital selama tahun 1992 sampai 1994, 12% terjadi akibat Solutio Plasenta (Cunningham dan Hollier, 1997) frekwensi ini sama dengan yang dilaporkan oleh Fretts dan Usher (1997)yang meneliti hampir 62.000 kelahiran di Royal Victoria Hospital d Montreal antara tahun 1978 dan 1995 Solutio Plasenta telah menjadi penyebab tersering dan menyebabkan sekitar 15% bayi lahir meninggal.
Yang terpenting bahkan, apabila janinnya selamat, masih mungkin terjadi sekuele simpang dari 182 bayi yang selamat dalam penelitian oleh Abdella dkk (1984). 25 (14%) diantaranya teridentifikasi mengalami defisit neurologis yang signifikan dalam tahun pertama kehidupan.
Berdasarkan insidens diatas kelompok sangat tertarik untuk membahas dan mempelajari askep Solutio Plasenta, sehingga akan meningkatkan pemahaman kita semua khususnya kelompok.
1.2  Rumusan Masalah
1.      Apa definisi dari abrupsio plasenta ?
2.      Etiologi
3.      Patofisiologi dari abrupsio plasenta
4.      Manifestasi klinis dari abrupsio plasenta
5.      Klasifikasi dari abrupsio plasenta
6.      WOC abrupsio plasenta
7.      Asuhan keperawatan dengan abrupsio plasenta

1.3  Tujuan Penulisan
1.      Tujuan Umum
Agar mahasiswa mendapat wawasan, menambah pengetahuan dan keterampilan serta pengalaman nyata dalam meberikan askep pada pasien Solutio Plasenta dilapangan.
2.      Tujuan Khusus
Agar mahasiswa mampu :
a. Menyebutkan tentang definisi Solutio Plasenta
b. Menjelaskan tentang etiologi Solutio Plasenta
c. Menjelaskan patofisologi Solutio Plasenta
d. Menjelaskan tentang manifestasi klinis Solutio Plasenta
e. Menjelaskan tentang komplikasi Solutio Plasenta
f. Menjelaskan askep Solutio Plasenta
.

1.4  Manfaat
1        Agar mahasiswa mengetahui tentang definisi solutio plasenta
2        Agar mahasiswa mampu membuat asuhan keperawatan dengan solutio plasenta dengan benar

1.5  Metode
Metode dan teknik penulisan yang digunakan dalam penulisan karya tulis ini adalah metode studi pustaka. Studi pustaka dilakukan untuk mendapatkan data dan informasi yang bersifat teoritis yang kemudian data tersebut akan dijadikan dasar atau pedoman untuk melihat adanya ketidaksesuaian antara teori dengan kenyataan sebagai penyebab dari permasalahan yang dibahas dalam karya tulis ini. Sumber – sumber yang dijadikan sebagai rujukan untuk studi pustaka diperoleh dari berbagai sumber bacaan. Baik itu buku maupun situs – situs yang ada di internet.
















BAB  II
PEMBAHASAN
2.1  PEMBAHASAN
A.    Pengertian
Solutio Plasenta adalah terlepasnya plasenta dari tempat implementasinya sebelum janin lahir (Cunningham, 2005).
Abrupsio Plasenta (pelepasan plasenta prematur) didefinisikan sebagai lepasnya plasenta yang tertanam normal dari dinding uterus baik lengkap maupun parsial pada usia kehamilan 20 minggu atau lebih (Ben – Zion Tabe, 1994).
Abrupsio Plasenta adalah lepasnya plasenta dari tempat tertanamnya, sebelum waktunya (Helen, 2006).
Solutio Plasenta adalah terlepasnya plasenta dengan implantasi normal sebelum waktunya pada kehamilan yang berusia diatas 28 minggu (Arief Mansjoer, 2001).
Solutio Plasenta adalah terlepasnya plasenta yang letaknya normal pada kospus uteri sebelum janin lahir (Prof. Dr. Hanifa Wikryosastro, 1992).
Solutio Plasenta adalah suatu keadaan dalam kehamilan viable dimana plasenta yang tempat implantasinya normal (pada fundus atau korpus uteri) terkelupas atau terlepas sebelum kala III (Dr. Chrisdiono M. Achadiat,Sp, 2003).
Solutio Plasenta adalah pelepasan sebagian atau seluruh plasenta yang normal implantasinya antara minggu 22 dan lahirnya anak (Obstetri dan Ginekologi, FKU Padjajaran Bandung, 1984).
untitled.bmp
B.     Etiologi
Faktor penyebabnya belum diketahui, tetapi kondisi abrupsio plasenta dapat dikaitkan dengan hal-hal berikut :
1. Tekanan darah tinggi pada ibu
Glomerulonefritis kronik, hipertensi essensial, sindroma preeklamsia dan eklamsia (15,16). Pada penelitian di Parkland, ditemukan bahwa terdapat hipertensi pada separuh kasus solusio plasenta berat, dan separuh dari wanita yang hipertensi tersebut mempunyai penyakit hipertensi kronik, sisanya hipertensi yang disebabkan oleh kehamilan. Dapat terlihat solusio plasenta cenderung berhubungan dengan adanya hipertensi pada ibu.

2. Usia ibu atau paritas cukup tinggi
Dalam penelitian Prawirohardjo di RSUPNCM dilaporkan bahwa terjadinya peningkatan kejadian solusio plasenta sejalan dengan meningkatnya umur ibu. Hal ini dapat diterangkan karena makin tua umur ibu, makin tinggi frekuensi hipertensi menahun.

3. Perokok
Ibu yang perokok juga merupakan penyebab peningkatan kasus solusio plasenta sampai dengan 25% pada ibu yang merokok ≤ 1 (satu) bungkus per hari. Ini dapat diterangkan pada ibu yang perokok plasenta menjadi tipis, diameter lebih luas dan beberapa abnormalitas pada mikrosirkulasinya (17). Deering dalam penelitiannya melaporkan bahwa resiko terjadinya solusio plasenta meningkat 40% untuk setiap tahun ibu merokok sampai terjadinya kehamilan.

4. Gizi buruk
5. Trauma tumpul pada abdomen ibu
Trauma yang dapat terjadi antara lain :
·         Dekompresi uterus pada hidroamnion dan gemeli.
·         Tarikan pada tali pusat yang pendek akibat pergerakan janin yang banyak/bebas, versi luar atau tindakan pertolongan persalinan.
·         Trauma langsung, seperti jatuh, kena tendang, dan lain-lain.
·         Dari penelitian yang dilakukan Slava di Amerika Serikat diketahui bahwa trauma yang terjadi pada ibu (kecelakaan, pukulan, jatuh, dan lain-lain) merupakan penyebab 1,5-9,4% dari seluruh kasus solusio plasenta.

6. Riwayat absupsio plasenta terdahulu
Hal yang sangat penting dan menentukan prognosis ibu dengan riwayat solusio plasenta adalah bahwa resiko berulangnya kejadian ini pada kehamilan berikutnya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan ibu hamil lainnya yang tidak memiliki riwayat solusio plasenta sebelumnya.

8.Peningkatan dan ukuran uteri secara mendadak
Misal, bila terjadi pecah ketuban akibat polihidramnion atau diantara persalinan pada kehamilan kembar).

9. Pengguna kokain terutama jenis crack.
Penggunaan kokain mengakibatkan peninggian tekanan darah dan peningkatan pelepasan katekolamin, yang mana bertanggung jawab atas terjadinya vasospasme pembuluh darah uterus dan dapat berakibat terlepasnya plasenta. Namun, hipotesis ini belum terbukti secara definitif. Angka kejadian solusio plasenta pada ibu-ibu penggunan kokain dilaporkan berkisar antara 13-35%.

C.     Patofisiologi
Perdarahan dapat terjadi dari pembuluh darah plasenta atau uterus yang mebentuk hematoma pada desidua, sehingga plasenta terdesak dan akhirnya terlepas.Apabila perdarahan sedikit, hematoma yang kecil itu hanya akan mendesak jaringan plasenta, peredaran darah anatara uterus dan plasenta belum terganggu, dan tanda serta gejalanyapun tidak jelas kejadiannya baru diketahui setelah plasenta lahir, yang pada pemeriksaan didapatkan cekungan pada permukaan maternalnya dengan bekuan darah lama yang berwarna kehiam-hitaman.
Biasanya perdarahan akan berlangsung terus menerus karna otot uterus yang telah meregang oleh kehamilan itu tidak mampu untuk lebih berkontraksi menghentikan perdarahannya. Akibatnya, hematoma retroplsenter akan bertambah besar, sehingga sebagian dan akhirnya seluruh plasenta terlepas dari dinding uterus sebagian darah akan menyelundup dibawah selaput ketuban keluar dari vagina atau menembus selaput ketuban masuk kedalam kantong ketuban atau mengadakan ekstravasasi diantara serabut-serabut diotot uterus. Apabila ekstravasasinya berlangsung hebat, seluruh permukaan uterus akan berbercak biru atau ungu. Jal ini disebut uterus couvelaire, menurut orang yang pertama kali menemukannya uterus seperti itu akan terasa sangat tegang dan nyeri. Akibat kerusakan jaringan miometrium dan pembekuan retroplasenter, banyak tromboplastin akan masuk kedalam peredaran darah ibu, sehingga terjadi pembekuan intravaskuler dimana-mana yang akan menghabiskan sebagian besar persediaan fibrinogen akibatnya terjadi hipofibrinogenemi yang menyebabkan gangguan pembekuan darah tidak hanya diuterus, akan tetapi juga pada alat-alat tubuh lainnya. Perfusi ginjal akan terganggu karena syok dan pemberian intravaskule. Oliguria dan proteinuria akan terjadi akibat nekrosis tubuli ginjal mendadak yang masih dapat sembuh kembali, atau akibat nekrosis korteks ginjal mendadak yang biasanya berakibat fatal.
Nasib janin tergantung dari luasnya plasenta yang terlepas dari dinding uterus. Apabila sebagian besar atau seluruhnya terlepas, mungkin tidak berpengaruh sama sekali, atau mengakibatkan gawat janin. Waktu sangat menentukan hebatnya gangguan pembekuan darah, kelainan ginjal dan nasib janin, makin lama sejak terjadinya Solutio Plasenta sampai selesai, makin hebat umumnya komplikasi.
D.    Manifestasi Klinis
1.      Perdarahan pervaginam disertai rasa nyeri diperut yang terus-menerus, warna darah merah kehitaman.
2.      Rahim keras seperti papan dan nyeri dipegang karena isi rahim bertambah dengan darah yang berkumpul dibelakang plasenta hingga rahim teregang (uterus embosis, Wooden uterus).
3.      Palpasi janin sulit karena rahim keras.
4.      Fundus uteri makin lama makin naik.
5.      Auskultasi DJJ sering negatif.
6.      KU pasien lebih buruk dari jumlah darah yang keluar.
7.      Sering terjadi renjatan (hipovolemik dan neurogenik)
8.      Pasien kelihatan pucat, gelisah dan kesakitan.

E.     Klasifikasi
Solutio plasenta dibagi menjadi 3 yaitu :
·         Solutio Plasenta ringan
 Tanpa rasa sakit
 Pendarahan kurang dari 500 cc warna akan kehitam-hitaman
 Plasenta lepas kurang dari 1/5 bagian
 Fibrinogen diatas 250 mg %
·         Solutio Plsenta sedang
 Bagian janin masih teraba
 Perdarahan antara 500-100 cc
 Terjadi fetal distress
 Plasenta lepas kurang 1/3 bagian
·         Solutio Plsenta berat
·         Abdomen nyeri, palpasi janin sukar
 Janin telah meninggal
















F.      WOC
Faktor kebiasaan merokok

Plasenta menjadi tipis,mudah robek
 

Perdarahan                                        pucat,gelisah
 

Hematoma desidua                            Mk: ansietas
          
Plasenta terdesak
                                                           Plasenta Lepas
                                                           Kegawatan janin         kematian janin
                                              
MK: hipoksia    Mk: cedera pada janin

Hematoma retoplasenta              kerusakan jaringan miometrium&pembekuan retroplasenter
 bertmbh besar
                                                           tromboplastin masuk ke peredaran darah ibu
Darah masuk ke selaput ketuban                  
Pembekuan intravaskuler dimana-mana
Ekstravasai hebat
                                                                       Hipofibrinogeni
Uterus couvelaire                  
                                                                       MK: Syok hipovolemik
Mk: nyeri abdomen
Perfusi ginjal terganggu                                  
                                                                       Oliguria,proteinuria
 

                                                                       Mk: gangguan eliminasi urin


G.    Komplikasi Solutio plasenta
1.      Perdarahan dan Syok
2.      Hypofibrinogenaomi
3.      Apoplexi Uteroplasentair
4.      Gangguan faal ginjal

H.    Pemeriksaan Penunjang
1.      Laboratorium Hemoglobin, hematokrit, trombosit, waktu protrombin, waktu pembekuan, waktu tromboplastin parsial, kadar fibrinogen, gen elektrolit plasenta, CBC, CT, BT, elektrolit (bila perlu).
2.      Keadaan janin kardiootokografi, Doppler, laennec.
3.      USG menilai letak plasenta, usia kehamilan dan keadaan janin secara keseluruhan.
I.       Penatalaksanaan
a.       Konservatif
     Hanya untuk Solutio Plsenta derjat ringan dan janin
- masih belum cukup bulan, apalagi jika janin telah meninggal.
 Transfusi darah (1 x 24 jam) bila anemia (HB kurang dari 10,0%). Apabila ketuban telah pecah, dipacu dengan oksitosin 10IU dalam larutan saline 500 cc, kemudian ditunggu sampai lahir pervaginam.
 Bila 1
- botol tersebut belum lahir, ulangi dengan 1 botol lagi dan ditunggu sampai lahir. Dengan langkah ini biasanya sebagian besar kasus dapat diselesaikan dengan baik (90%) sedangkan bagi yang gagal dapat dilakukan SC emergency.
b.      Pengobatan
1. Umum
·         Pemberian darah yang cukup.
·         Pemberian 02
·         Pemberian antibiotik
·         Pada syok yang berat diberi kortikosteroid dalam dosis tinggi.
2.      Khusus
a. Terhadap hypofibrinogenaemi
Substansi dengan human fibrinogen 10 g atau darah segar.Menghentikna fibrinolyse dengan trsylol (proteinase inhibitor) 200.000 S. IV selanjutnya kalau perlu 100.000 s/jam dalam infus.
b. Untuk meransang diurese : mannit monnitol diurese yang baik lebih dari 30 – 40 cc/jam.
Pada Solutio Plsenta darah dari tempat pelepasan, mencari jalan keluar antara selaput janin dan dinding rahim dan pada akhirnya keluar dari serviks. Terjadilah pendarahan keluar atau pendarahan tampak.
Kadang darah tidak keluar tetapi berkumpul dibelakang plasenta membentuk hematom retroplsentair. Pendarahan ini disebut pendarahan kedalam atau pendarahan tersembunyi.
Pendarahan juga dapat terjadi keluar tetapi sebagian masuk kedalam ruang amnion, terjadilah perdarahan keluar dan tersembunyi.
c. Perbedaan Solutio Plsenta dengan pendarahan tersembunyi dan pendarahan keluar :
·         Pendarahan tersembunyi
·         Pelepasan biasanya komplit
·         Sering disertai toksemia
·         Hanya merupakan 20% dari Solutio Plsenta
·         Pendarahan keluar
·         Biasanya inkomplit
·         Jarang disertai toksemia
·         Merupakan 80% dari Solutio Plsenta


2.2  KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA SOLUTIO PLASENTA
Solutio Plasenta merupakan pelepasan prematur terjadi selama trisemester ketiga biasanya selama persalinan (Doengoes, 2001).

1        Pengkajian
1.      Anemnesis
a.       Perasaan sakit yang tiba-tiba di perut;kadang-kadang pasien bisa melokalisir tempat mana yang paling sakit,dimana plasenta terlepas.
b.      Perdarahan pervaginam yang sifatnya bisa hebat dan sekonyong-konyong (Non-recurrent) terdiri dari darah segar dan beku-bekuan darah.
c.       Pergerakan anak mulai hebat kemudian terasa pelan dan akhirnya berhenti (anak tidak bergerak lagi).
d.      Kepala terasa pusing,lemas,muntah,pucat,pandangan berkunang-kunang,ibu kelihatan anemis tidak sesuai banyaknya darah yang keluar.
e.       Kadang-kiadang ibu dapat menceritakan trauma dan factor kausal yang lain.
2.      Inspeksi
a         Pasien gelisah,sering mengerang karena kesakitan
b        Pucat,sianosis,keringat dingin
c         Kelihatan darah pervaginam
3.      Palpasi
a         Fundus uteri tambah naik  karena terbentuknya retroplasenter hematoma;uterus tidak sesuai dengan tuanya kehamilan.
b        Uterus teraba tegang dank eras seperti papan yang di sebut uterus in bois(woonden uterus)baik waktu his maupun di luar his
c         Nyeri tekan terutama di tempat plasenta tadi terlepas
d        Bagian –bagian janin susah di kenali,Karena perut (uterus) tegang
4.      Auskultasi
Sulit karena uterus tegang.Bila denyut jantung janin terdengar biasanya di atas 140,kemudian turun di bawah 100 dan akhirnya hilang bila plasenta yang terlepas lebih dari sepertiga.
5.      Pemeriksaan dalam
a         Serfiks bisa telah terbuka atau masih tertutup.
b        Kalo sudah terbuka maka ketuban dapat teraba menonjol atau tegang,baik sewaktu his atau di luar his.
c         Kalo ketuban sudah pecah dan plasenta sudah terlepas seluruhnya,plasenta ini akan turun ke bawah dan teraba pada pemeriksaan, di sebut prolapsus plasenta,ini sering di kacaukan dengan plasenta previa.
6.      Pemeriksaan Umum
a         Tensi semula  mungkin tinggi karena pasien sebelumnya menderita penyakit vaskuler,tetapi lambat laun turun dan pasien jatuh syok.
b        Nadi cepat,kecil,filiformis
7.      Pemeriksaan laboratorium
a         Urin
Albumin(+) ,pada pemeriksaan sedimen terdapat silinder dan lekosit
b        Darah
Hb menurun (anemi),pemeriksaan golongan darah,kalo bisa cross match test.Karena pada solusio plasenta sering terjadi kelainan pembekuan darah a/hipofibrinogenemia,maka di periksakan pula COT (Clot Observation test)tiap 1 jam ,test kualitatif fibrinogen (fiberidex), dan tes kuantitatif fibrinogen (kadar normalnya 150 mg %).
8.      Pemeriksaan plasenta
Sesudah bayi dan plasenta lahir,kita periksa plasentanya.Biasanya tampak tipis dan cekung di bagian plasenta yang terlepas(krater)dan terdapat koagulum atau darah beku di belakang plasenta,yang di sebut hematoma retroplasenter.

B.     Diagnosa Keperawatan
1.      Nyeri abdomen b/d trauma jaringan
2.      Shock hipovolemik b/d perdarahan yang berlebih
3.      Gangguan eliminasi urin b/d perfusi ginjal terganggu
4.      Hipoksia pada janin b/d kurangnya oksigen ke janin
5.      Resiko cedera janin b/d insufisiensi plasenta
6.      Ansietas b/d ancaman kematian terhadap diri sendiri dan janin.

C.     Intervensi Keperawatan
1.Nyeri abdomen b/d trauma jaringan
ü  Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam diharapkan rasa nyeri berkurang.
ü  Kriteria hasil :
ü  Nyeri hilang
ü  TTV dalam batas normal
ü  Nyeri tekan hilang atau berkurang

ü  Intervensi :
1.    Bantu dengan penggunaan tekhnik pernafasan.
R/ mendorong relaksasi dan memberikan klien cara mengatasi dan mengontrol tingkat nyeri.
2.    Anjurkan klien untuk menggunakan teknik relaksasi. Berikan instruksi bila perlu.
R/ relaksasi dapat membantu menurunkan tegangan dan rasa takut, yang memperberat nyeri.
3.    Berikan tindakan kenyamanan (pijatan, gosokan punggung, sandaran bantal, pemebrian kompres sejuk, dll)
R/ meningkatkan relaksasi dan meningkatkan kooping dan kontrol klien.
4.    Kolaborasi memberikan sedatif sesuai dosis
R/ meningkatkan kenyamanan dengan memblok impuls nyeri.

2.      Shock hipovolemik b/d perdarahan yang berlebih
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam diharapkan  keseimbangan cairan  tubuh pasien adekuat.
Kriteria hasil   :
·         TTV dalam batas normal
·         Pengisian kapiler cepat
·         Tidak anemia pucat
Intervensi dan rasional
1.      Evaluasi,laporkan dan catat jumlah serta kehilangan darah.
R/ Perkiraan kehilangan darah membantu membedakan diagnose.
2.      Catat tanda-tanda vital,pengisian kapiler pada dasar kuku,arna membran mukosa atau kulit dan suhu.
R/  Sianosis dan perubahan pada tekanan darah dan nadi adalah tanda-tanda lanjut dari kehilangan sirkulasi atau terjadinya syok.
3.      Pantau aktivitas uterus,dan adanya nyeri tekan abdomen.
R/ Membantu menentukan sifat hemoragi dan kemungkinan hasil dan peristiwa hemoragi.
4.      Pantau masukan atau keluaran cairan.
R/  Menentukan luasnya kehilangan cairan.
5.      Kolaborasi berikan larutan intravena,ekspander plasma dan darah lengkap atau sel-sel kemasan sesuai indikasi.
R/ Meningkatkan volume darah,sirkulasi,dan mengatasi gejala-gejala syok.

3.      Gangguan eliminasi urin b/d perfusi ginjal terganggu
a.       Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam diharapkan eliminasi urin pasien normal.
b.      Kriteria hasil: frekuensi berkemih normal

Intervensi dan rasional:


4.      Hipoksia pada janin b/d kurangnya oksigen ke janin
c.       Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam diharapkan suplai oksigen ke janin normal.
d.      Kriteria hasil :


5.      Resti cedera terhadap janin b/d insufiensi plasenta.
e.       Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam diharapkan pasien akan menunjukan berkurangnya ketakutan dan perilaku yang menunjukan ketakutan.
f.       Kriteria hasil:
·         Tidak takut
·         Tidak gelisah
Intervensi dan Rasional
1.      Diskusikan situasi dan pemahaman tentang situasi dengan klien dan pasangan.
R/ Memberikan informasi tentang reaksi individu terhadap apa yang terjadi.
2.      Pantau respon verbal dan nonverbal klien /pasangan.
R/ Menendakan tingkat rasa takut yang sedang di alami klien/pasangan
3.      Dengarkan masalah klien.
R/ Memberikan kesempatan mengungkapkan ketakutan atau masalah dan untuk mengembangkan solusi sendiri
4.      Berikan jawaban yang jujur.
5.      R/ jawaban yang jujur dapat meningkatkan pemahaman dengan baik

6.      Ansietas b/d kurangnya pengetahuan mengenai mengenai efek perdarahan dan manajemennya.
a.       Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x 24 jam diharapkan klien dapat mengerti dan ansietas berkurang
b.      Kriteria hasil   : Tidak takut
                      Tidak ada perdarahan
Intervensi & rasional
1)      Lakukan pendekatan kepada pasien serta ajak pasien untuk menceritakan masalahnya.
à kehadiran perawat dan pemahaman secara empati merupakan alat terapi yang potensial untuk mempersiapkan pasien guna menanggulangi situasi yang tidak diharapakan.
2)      Minta keluarga untuk mendukung pasien.
à Pasien mungkin membutuhkan dukungan orang-orang terdekatnya.


menunjukan perubahan perilaku atau gaya hidup   untuk menekan kadar resiko dalam melindungi diri serta janin.
Kriteria hasil:
c.       Tidak takut
d.      Tidak ada perdarahan
Intervensi dan Rasional
1.      Perhatikan kondisi ibu yang berdampak pada sirkulasi janin seperti anemia atau hemoragi.
R/ Faktor yang mempengaruhi atau menurunkan sirkulasi oksegenasi ibu mempunyai dampak yang sama pada kadar oksigen janin / plasenta.
2.      Tentukan penyalagunaan zat seperti tembakau alcohol dan obat-obatan lain.
R/ Penggunaan /penyalagunaan dapat mengakibatkan sindrom alcohol janin sampai kelainan/perlambatan perkembangan yang khusus.
3.      Kaji adanya potensial resiko pada janin.
R/ Bayi yang lahir dari ibu solusio plasenta bersifat prematuritas ,berat badan lahir rendah dan trauma kelahiran.
4.      Kolaborasi singkirkan masalah maternal atau obat-obatan yang dapat mempengaruhi peningkatan DJJ(mis:anemia.
R/ faktor-faktor dapat meningkatkan frekuensi jantung ibu dan janin.










BAB  III

PENUTUP


3.1  KESIMPULAN
Solutio Plasenta adalah terlepasnya plasenta dari tempat implantasinya sebelum janin lahir, diberi beragam sebutan, yaitu placental arubtion, Arubtio plasenta, dan di Ingris Accidental Hemorrhage (perdarahan tak disengaja) ( Cunningham, 2005).
Plasenta yang terlepas semuanya disebut Solutio Plasenta totalis. Plasenta yang terlepas sebagian disebut Solutio Plasenta Parsial. Plasenta yang terlepas hanya sebagian kecil pinggiran plasenta disebut Ruptura Sinus marginalis.

Solutio Plsenta dibagi menjadi 3 :
a. Solutio Plsenta ringan
b. Solutio Plsenta sedang
c. Solutio Plsenta berat

Komplikasi Solutio Plsenta :
1. Perdarahan dan Syok
2. Hypofibrinogenaomi
3. Apoplexi Uteroplasentair (Uterus Couvelaire)
4. Gangguan foal ginjal
3.2  SARAN

1.      Diharapkan kepada mahasiswa S1 Keperawatan dapat mengerti penyakit Solutio plasenta dan dapat menjelaskan ke masyarakat.
2.      Mahasiswa S1Keperawatan dapat membuat asuhan keperawatan tentang penyakit Solitio plasenta dengan benar.




























DAFTAR PUSTAKA

Sastra, Sulaiman Winata dkk. 2003. Obsterti Ilmu Kesehatan Reproduksi,edisi 2.    Jakarta:EGC.
Manjoer,Ariff dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran edisi II.Jakarta: Media Aesculapius FKUI.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar